Ga’en Wongko’ Damu Dazar: Sebuah Potret Budaya Kosmik
12 Mei 2024 / Book Review / Nancy Agatha Florida
Oleh Maxianus Nitsae
1. Sinopsis
Ga’en Wongko’ Damu Dazar adalah sebuah buku tentang budaya ditulis oleh Nancy A Florida dan Kristina J Tehang. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Deepublish tahun 2023 di Yogyakarta ini secara khusus mendeskripsikan budaya suku Damu Dazar. Secara administratif suku Damu Dazar berada di wilayah Benteng Tawa yang merupakan nama dari salah satu desa di Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada-Flores-NTT.
Berbeda dengan sebagian wilayah bekas Swapraja Riung lainnya yang dikelilingi perbukitan gersang, pada Benteng Tawa deretan perbukitan dan lembah suburlah yang mengitarinya, sebuah kondisi geografis yang ideal untuk pertanian dan peternakan. Realitasnya sejak jaman dulu hingga saat ini warga masyarakat desa Benteng Tawa yang terdiri dari dua suku yakni suku Damu Dazar dan suku Terong Kedong memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluarga, pendidikan anak dan kebutuhan kebutuhan sosial seperti kebutuhan adat istiadat melalui profesi petani dan peternak. Mereka mengerjakan kebun, sawah dan ladang dan memelihara sapi, kerbau, kambing, babi dan ayam.
Masyarakat desa Benteng Tawa di lembah yang subur ini masih setia menjalankan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur mereka. Mereka terlihat enggan untuk meninggalkan tradisi mereka, tersirat dari adanya penolakan dari warga Benteng Tawa terutama yang berasal dari suku Damu Dazar terhadap tradisi modern yang di bawah oleh gereja Katolik[1] yang berusaha untuk merelokasi warga desa Benteng Tawa ke daerah lain yakni Karot namun tidak berhasil karena suku Damu Dazar memilih untuk menetap di Galong Onan yang kini disebut desa Benteng Tawa.
Sebenarnya perpindahan lokasi bukanlah hal yang tidak biasa karena masyarakat suku Damu Dazar terkadang melakukannya. Namun perpindahan yang mereka lakukan adalah tindakan atas inisiatif mereka sendiri bukan atas permintaan pihak lain. Dalam melakukan perpindahan tempat tinggal, mereka selalu melakukan upacara adat memohonkan izin kepada leluhur agar mereka dapat menempati wilayah baru dan memohon penjagaan dalam kehidupan suku selanjutnya.
Upacara adat yang diakukan ini merupakan ekspresi ketaatan suku Damu Dazar terhadap para leluhur dan tradisi yang telah diwariskan. Ketaatan suku Damu Dazar pada leluhur dan tradisi juga berlaku untuk setiap proses kehidupan seperti pertanian, pernikahan, kelahiran, kematian dan bahkan untuk urusan pendidikan. Ketaatan ini dilandasi oleh keyakinan bahwa keberhasilan setiap tindakan yang dilakukan dapat terjadi manakala ada restu dari para leluhur dan semesta.
Lestarinya budaya suku Damu Dazar di desa Benteng Tawa ini terjadi karena secara sosial budaya suku ini memiliki struktur pemerintahan adat yang disebut pongkot tengkel yang berperan mengatur tata kehidupan para anggota suku. Tokoh-tokoh yang memangku jabatan sosial dalam struktur tersebut adalah tokoh adat yang dalam bahasa lokalnya dikenal dengan nama Ga’en Wongko’, yang terdiri dari Dor, Gelarang, Punggawa, dan Tangar Onan.
2. Ga’en Wongko’ Damu Dazar Sebuah Kebudayaan Kosmik
Menurut John Mansford Prior (1996: 298) kebudayaan-kebudayaan lokal, agraris dan lisan di Indonesia Timur adalah kebudayaan kosmik, yang mencakupi seluruh tatanan alam, sosial dan simbolik dalam suatu sistim yang total. Ga’en Wongko’ Damu Dazar dapat dikatakan sebagai salah satu warisan kebudayaan kosmik ‘dimana ‘seluruh kosmos, setiap kegiatan, setiap kejadian, bernafaskan roh para leluhur yang menghadirkan gaya hidup transenden-imanen di dalam dan di balik segala sesuatu (1996: 298).
Potret kebudayaan kosmik ini tergambar jelas dalam pratek hidup masyarakat suku Damu Dazar yang terdokumentasikan dalam buku ini. Suku Damu Dazar dideskrisipkan sebagai suku yang kerap perpindah domisili meskipun saat ini mereka memilih untuk menetap di lembah Galong Onan. Mereka, sebelum menetap, berpindah dari satu gunung ke gunung yang lain. Pada setiap perpindahan mereka tak lupa melakukakan upacara adat. Mereka selalu membawa dua buah batu lonjong yang dinamakan Watu Ame Azi sebagai representasi dari kehadiran para leluhur. Watu Ame Azi ini biasanya ditahtakan pada sebuah tempat di hunian baru mereka yang disebut Nambe sale. Para leluhur ini diyakini merupakan penjaga keamanan kampung dari serangan musuh.
Ritual adat lain yang kerap atau yang mungkin paling sering dilakukan adalah ritual adat Ngampong Manuk. Menurut Pater Paul Arndt SVD dalam Ga’en Wongko Damu Dazar (2023: 9) hampir setiap kehidupan budaya orang Riung termasuk suku Damu Dazar selalu diawali dengan doa-doa tradisional yang dibuat melalui ritual ritual Ngampong Manuk. Ritual doa yang menggunakan media ayam sebagai penghubung dengan Tuhan dan leluhur ini dimaksudkkan untuk memohonkan restu dari Tuan dan leluhur agar semua kegiatan yang dilakukan dapat berhasil.
Ritual terbanyak yang dilakukan oleh suku ini adalah ritual yang berhubungan dengan pertanian mulai dari persiapan lahan sampai panen dan bahkan ritual untuk meminta hujan. Beberapa ritual yang biasa dilakukan terkait pertanian adalah ritual reti tana yaitu upacara untuk pembukaan lahan baru, ritual toke mata wae yaitu upacara untuk meminta hujan, dan lainnya sampai pada ritual syukur panen yang disebut Ghan Weton.
Upacara-uacara adat yang dilakukan sebelum, selama atau sesudah pelaksanaan suatu kegiatan merupakan ekpresi kehidupan sakramental suku Damu Dazar. Ritual-ritual adat yang dilakukan ini ditujukan untuk berbagai tujuan antara lain untuk memohonkan izin, meminta petunjuk, memohonkan perlindungan, kelancaran serta kesuksesan atas setiap peristiwa yang dilakukan dan juga ritual syukur atau terima kasih atas keberhasilan atau tercapainya sebuah usaha.
Ekpresi religiusitas yang termanifestasikan dalam ritual-ritual adat adalah reprsentasi keyakinan yang terpatri dalam budi dan iman masyarakat akan besarnya peranan roh para leluhur dan kekuatan besar yang mengendalikan dan menguasai kehidupan atau eksistensi dari kosmos. Alam diyakini merupakan singgasana dari roh para leluhur dan kekuatan itu yang mengendalikan kosmos. Namun roh para leluhur dan kekuatan yang mengendalikan atau menguasai kosmos ini tidak dapat dijangkau oleh manusia kendati menempati ruang yang sama dengan ruang yang ditempati manusia. Kekuatan yang diyakini masyarkat ini tidak terlihat tetapi diyakini ada.
Selain bersifat transenden sehingga sulit untuk dijangkau, komunikasi yang terbangun antara manusia dengan penguasa kosmos ini merupakan komunikasi satu arah dan merupakan sebuah komunikasi vertikal. Manusia memandang dirinya sebagai makhluk yang lemah yang tak mampu untuk mengendalikan kehidupannya dan menguasai alam sekitar yang ditinggalinya sehingga manusialah yang aktif untuk membangun komunikasi dengan para leluhur dan mori atau kekuatan yang menguasai kosmos. Komunikasi yang dilakukan selalu diinisiasi oleh manusia dan yang dikomunikasikan kepada Mori adalah ujud-ujud berupa permohonan dan pujian atau syukur.
Umumnya ujud-ujud ini dapat langsung ditujukan kepada penguasa alam atau Tuhan yang biasa disebut Mori atau Poso’ Wongko’ dan kepada para leluhur, seperti bait doa berikut:
Kami pain lone Kau Poso’ Wongko
Lone miu embo’ nusi
Kapo’ng pontong wi kole’ ghoe nggami
Beka mbik wi na’ang pening nggami
Teka wi laba’ mai wi saghing.
Kami pinta pada-Mu Poso’ Wongko’ (Yang Ilahi)
Pada kamu para leluhur
Restuilah segala karya kami
Kembang biak segala ternak kami
Datangkan rezeki kehidupan kepada kami
(Florida & J Tehang, 2023: 58)
Ekpresi religiusitas oleh sebuah komunitas kosmik seperti suku Damu Dazar ini dapat dilakukkan dengan beberapa ragam cara. Ada ritual yang dilakukan melalui tarian, nyanyian, atau doa. Ragam ritual ini bisa dilakukan secara bersamaan sebagai satu rangkaian upacara atau bisa dilakukan secara terpisah. Selain tarian nyanyian dan mantra atau doa, ada juga prasarana yang dibutuhkan untuk keberlangsungan sebuah ritual seperti arca, ayam, dan alat-alat pertanian warisan para leluhur yang disakralkan.
Secara struktural, ga’en wongko’ memiliki peranan sentral dalam pelaksanaan setiap ritual adat di suku Damu Dazar dan atas keseluruhan tata kkehidupan suku. Pada suku Damu Dazar terdapat empat jabatan sosial yang dijabat oleh para tokoh adat. Keempat jabatan sosial yang diemban para tokoh adat pada suku ini antara lain:
Dor dikenal sebagai ketua adat yang bertanggungg jawab untuk menentukan kapan sebuah pesta adat dapat dilaksanakan terutama yang terkait dengan pertanian. Pada hal tertentu Dor juga dikenal sebagai tuan tanah (tuang tana’) atau penguasa wilayah
Gelarang adalah semacam hakim dalam penyelesaian sengketa adat.
Punggawa adalah tokoh adat yang bertanggung jawab atas terlaksananya sebuah keputusan suku.
Tangar Onan adalah nujum suku yang bertugas menentukan apakah situasi cocok untuk melaksanaan pekerjaan tertentu yang telah disepakati oleh para Ga’en Wongko ((2023; 13).
Distribusi peran pada suku Damu Dazar tidak berarti meniadakan kerja sama antar tokoh sebab meskipun masing-masing tokoh adat memiliki peranan yang berbeda-beda, segala keputusan adat selalu didasarkan atas keputusan bersama para tokoh adat di rumah adat. Setiap keputusan yang diambil para tokoh merupakan keputusan suku yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota suku. Pada Suku ini, ada tokoh adat yang berperan untuk memastikan terlaksana atau tidak terlaksananya sebuah keputusan adat yan disebut punggawa. Warga suku yang tidak memangku jabatan sosial dapat berperan dalam pelaksanan rital-ritual adat yang lain seperti upacara tarian adat, nyanyian dan lain-lain.
Masyarakat damu dazar merupakan masyarakat komunal yang konformis. Setiap orang memiliki peran yang berbeda-beda tetapi untuk tujuan bersama. Ada ketergantungan antar anggota suku. Kegiatan yang dilakukan seseorang dilakukan atas nama suku dan atas kesepakatan bersama suku yang terdelegasikan kepada para tokoh adat.
3. Modernisme Tidak Menghilangkan Tetapi Memarjinalkan
Ketenangan masyarakat suku damu Dazar di lembah subur Galong Onan di desa Benteng Tawa dengan budaya kosmiknya ini sedang terusik oleh penetrasi modernisme yang kian hari kian terasa pengaruhnya. Ada suara kecemasan yang dilontarkan oleh para tokoh adat sekaligus pelaku budaya kosmik Damu Dazar. Kecemasan para tokoh adat ini terutama karena kurangnya minat generasi muda suku Damu Dazar untuk terlibat dalam setiap ritual adat yan dilakukan atau mempelajari budaya suku Damu Dazar secara keseluruhan.
Bapa Didimus Mana seorang tokoh muda dari suku Damu Dazar mengakui minimnya partisipasi generasi muda terhadap adat dan budaya lokal. Hal senada diungkapkan oleh bapa Leonardus Lewa yang juga merasakan kurangnya minat dan keterlibatan anak muda dalam kegiatan adat. Kurangnya minat generasi muda Damu Dazar untuk mendalami budaya mereka sendiri disebabkan oleh besarnya pengaruh dunia modern. Penetrasi budaya modern yang saat ini terjadi diberbagai belahan dunia termasuk di wilayah suku Damu Dazar, menurut Didimus Mana membuat kaum muda suku Damu Dazar enggan untuk mendalami adat dan budaya lokal sendiri karena terkesan jadul.
Pertanyaannya mengapa harus cemas dengan adanya budaya modern? Bukankah modernisme adalah budaya maju yang pantas utuk dijalankan timbang budaya lokal yan hanya memberi beban psikologis bagi generasi muda Damu Dazar? Apa benar budaya lokal suku Damu Dazar adalah budaya jadul dibandingkan dengan budaya modern? Dan mengapa generasi muda rentan terpengaruh dengan modernisme?
Dikotomi budaya merupakan cara pandang yang dipergunakan pada masa kolonialisme oleh bangsa-bangsa penjajah dalam mendefinisikan budaya baik budaya mereka maupun budaya bangsa yang terjajah. Berpijak pada kemajuan teknologi yang telah dicapai yang diyakini sebagai representasi kemajuan budaya secara keseluruhan, para penjajah yang teknologinya lebih maju dari bangsa yang dijajahnya kemudian mendefinisikan budaya secara dikotomis superior vs inferior, modern vs primitif, dewasa vs kekanak-kanakan, centrum vs periferi
Karena definisi ini dilakukan secara sepihak oleh bangsa-bangsa penjajah yang hanya berpijak pada asumsi akan superioritas mereka terhadap bangsa yang ditaklukan, bangsa penjajah yang mayoritasnya adalah bangsa-bangsa dari benua Eropa menempatkan budaya mereka sebagai budaya yang sudah maju, dewasa dan superior. Sebaliknya budaya bangsa pribumi dilihatnya sebagai budaya yang masih primitif, kekanak-kanakan dan inferior.
Wacana kolonial yang merupakan ideologi kolonial yang timpang ini kemudian diinjeksikan secara terus menerus, masif dan sistematis melalui piranti-piranti penjajahan mereka seperti pendidikan, agama, buku-buku bacaan seperti novel dan perilaku hidup sehari-hari agar dapat memengaruhi kesadaran kolektif penduduk pribumi yang telah ditaklukannya. Pada akhirnya penjajahan pola pikir ini berhasil meyakinkan bangsa terjajah untuk menerima definisi yang dibangun oleh penjajah. Muncul pengakuan akan inferioritas yang ditimpakan terhadap diri sendiri sembari mengakui keunggulan dari kaum kulit putih.
Wacana mengenai superioritas ras, budaya dan pengetahuan Eropa ini kemudian dijadikan sebagai pembenaran terhadap kolonialisme sehingga kolonialisme bukan merupakan sebuah kejahatan tapi tampak sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan merupakan sebuah kebaikan. Sebaliknya yang terjajah yang diyakini bersifat primitif, bodoh, irasional dan serupa anak-anak sehingga sudah sewajarnya diperintah oleh orang Eropa. Justru mereka sangat membutuhkan bimbingan orang Eropa sebab mereka tidak akan mampu megurus diri mereka sendiri dan megangkat derajat budaya mereka sendiri.
Terkait dengan hal ini uskup Chiapas Pedro de Feria yang dikutip oleh Hiebert (1996; 15) penah menulis demikian: ‘ kita harus mencintai dan membantu orang-orang pribumi sekuat tenaga kita. Tetapi, bawaan dan sifat-sifat mereka yang tidak sempurna menuntut agar mereka diatur, diperintah dan dibimbing menuju tujuan yang ditunjuk, lebih dengan ketakutan daripada dengan cinta kasih’.
Penjajahan secara fisik telah lama berakhir namun dampak psikologis dari kolonialisme ini masih sangat kuat pengaruhnya. Bahkan muncul kolonialisme dalam bentuk baru yang sedang berlangsung dan justru semakin kuat mencengkram kesadaran kolektif masyarakat Indonesia. Salah satu manifestasi dari kolonialisme bentuk baru ini adalah ketergantungan, pemujaan dan pengakuan terhadap superioritas Barat dalam berbagai hal antara lain ekonomi, budaya, ilmu dan teknologi dll.
Saat ini kita berada di era globalisasi yang berkembang dari budaya modern yang diperkenalkan pada masa kolonialisme. Globalisasi yang diyakini ‘dapat menjadikan semua budaya menjadi pusat’ (Sunardi, 2013; 226) dan ‘membawa keterbukaan kepada seluruh dunia’ tetapi di era globalisasi ini ‘budaya-budaya kosmik yang rapuh itu marginal’ (Prior, 1996; 302).
Marginalisasi terhadap yang lemah ini terjadi karena salah satu kekuatan utama globalisasi yakni kapitalisme global yang karena obsesinya akan efisiensi dan efektifitas sering mengabaikan komunikasi atau dialog yang merupakan spirit dari budaya yang mana dengannya terjadi pengakuan atas kebebasan dan keterbukaan manusia.
Ruang komunikasi seolah sulit untuk didapatkan yang disuguhkan pada masyarakat adalah monopoli yang dikemas dalam bentuk kompetisi yang sebenarnya merupakan cara yang ditempuh oleh negara-negara maju untuk melakukan ekspansi pasar mereka ke negara—negara berkembang. implikasinya yang kuat akan menjadi penguasa, sedang yang lemah menjadi marginal. Dampaknya, globalisasi menghidupkan polarisasi yang sudah ada sejak jaman kolonial yakni pusat dan pinggiran atau kosmopolitan dan pinggiran.
Menurut St. Sunardi (2013; 227) seyogyanya ada tiga kekuatan besar yang berperan dalam menentukan kehidupan sehari-hari masyarakat di era globalisasi ini yakni: Negara, bisnis (ekonomi kapitalis) dan produksi masa. Ketiga pengendali utama kehidupan masyarakat di era globalisasi ini memiliki peranan yang berbeda-beda. Negara misalnya memiliki kekuatan untuk mengatur masyarakat secara administratif sedangkan bisnis dan produksi masa berkaitan erat dengan ekonomi; salah satunya adalah produksi barang untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat.
Namun pada kenyataannya bisnis yakni kapitalisme global lah yang lebih berperan besar dalam menentukan arah kehiduan harian masyarakat global dewasa ini. Peranannya melebihi peran negara, terkadang kedua kekuatan ini saling mendukung satu sama lain tetapi dalam banyak hal terutama yang terkait dengan bisnis Negara terkooptasi oleh ekonomi kapitalis. Karena kekuatannya yang tak terkontrol dan bersifat ekspansif, ekonomi kapitalisme mengkhianati demokrasi yang sama-sama dimajukan ole modernisme.
Sifat ekspansif pasar bebas kembali menghadirkan tabiat kolonialisme tradisional yang telah lama berakhir. Sritua Arif yang dikutip oleh Retnowati dalam Ranah-Ranah Kebudayaan di Era Kapitalisme Global (2010; 224) mengatakan dalam konteks kapitalisme global hubungan antara penguasa (superior) dan yang dikuasai (inferior) tercermin dalam hubungan eksploitatif antara Negara industri maju dengan negara berkembang atau hubungan eksploitatif antara pengusaha besar dengan penguasa kecil. Negara industri maju yang memiliki dan menguasai teknologi tinggi mampu menghasilkan produk melimpah dan dijual ke negara berkembang. Negara itu mampu pula melakukan perluasan investasi ke negara-negara berkembang yang kalah teknologi
Dikatakan oleh Retnowati bahwa hubungan eksploitatif tersebut juga telah lama digambarkan oleh filsuf Herbert Marcuse (2010; 224) yang mengatakan ‘perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membentuk system teknologi dan membawa masyarakat pada pemenuhan kebutuhan yang tidak rasional karena perusahaan mampu memproduksi barang secara melimpah. Atas dasar itu negara industri maju yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi akan mencari sasaran negara berkembang untuk melipatgandakan modal melalui produk-produknya’.
Berkaca pada gambaran di atas sesungguhnya globalisasi yang diyakini dapat menjadikan semua budaya menjadi pusat dan membawa keterbukaan kepada seluruh dunia hanyalah sebuah utopia karena pusat dari kapitalisme global hanya diduduki oleh beberapa Negara maju. Negara lain ikut menjalankan kapitalisme global dari pinggiran. Hal ini diungkapkan dengan jelas oleh George Soros dalam Sunardi (2013; 236) yang mengatakan demikian:
The center is the provider of capital, the periphery is the user of the capital. The center is also the trend setter, innovator, and clearing house for information. The center’s most important feature is that it controls its own economic policies and holds in its hands the economic destinies of periphery countries.
Hubungan yang tak seimbang ini digambarkan oleh Mudji Sutrisno dalam Retnowati (2010; 224-225) sebagai salah satu watak dari kolonialisme modern; daerah koloni (seperti Negara berkembang) dijadikan pasar, dipaksa mengonsumsi produk-produk negara induk (negara industri maju). Dalam kolonialisme modern, sistem ekonomi kapitalis negara industri maju selalu memberi peluang pada negara industri maju untuk membawa keuntungan sebesar-besarnya ke negaranya.
Globalisasi dengan motor penggerak utamanya kapitalisme global inilah yang menjadi ancaman bagi kebudayaan. Masalah utama globalisasi adalah ketegangan antara budaya global dan budaya lokal. Hal ini terjadi karena sifat dasar dari motor penggerak globalisasi yang ekspansif cenderung mengabaikan ruang dialog yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara yang ‘global dan yang lokal. Ruang dialog ini penting karena merupakan representasi relasi antarmanusia yang didasarkan kebebasan dan keterbukaan
Berkaitan dengan hal ini Mudji Sutrisno dalam Retnowati (2010; 223) mengatakan bahwa apabila setiap orang bersikap terbuka terhadap pendapat pihak lain dan secara jujur berdialog bersama demi perbaikan sistem hidup bersama, dunia ini dapat lebih disejahterakan dan lebih didamaikan karena penyebab pokok keterbukaan adalah diri sendiri yang terjebak ke pengalaman-pengalaman dan informasi yang usang hingga orang lain yang belum berpengalaman dianggap inferior, lebih rendah, dan bodoh.
Ketiadaan komunikasi ini pada ahkhirnya hanya memberi keuntungan pada penguasa globalisasi. Dengan demikian sangatlah beralasan para tokoh adat Damu Dazar secara khusus atau negara-negara berkembang cemas akan keberlanjutan tradisi kosmik mereka. Harapan orang tua terhadap generasi muda sebagai generasi penerus budaya sendiri dapat dikatakan telah menjadi impian idealis dan romantis di era globalisasi sekarang ini. Masyarakat lokal berada di persimpangan jalan. Pada satu sisi harapan orang tua untuk menghidupkan budaya suku sendiri dihadapkan pada budaya global modern dan masif. Masalah ini cenderung akan menumbuhkan sikap skeptis dan apatis terhadap budaya lokal. Pada akhirnya masyarakat enggan untuk mempelajari budaya sendiri.
4. PENUTUP
Kebudayaan merupakan sesuatu yang bersifat dinamis maka ia senantiasa berubah dan berkembang. Penetrasi globalisasi yang masif ini telah memarginalkan kebudayaan-kebudayaan kosmik akan tetapi tidak serta merta menghilangkan budaya lokal masyarakat seperti budaya suku Damu Dazar. Tradisi yang telah dihidupi setiap kali akan dibaharui dan ditafsirkan kembali oleh oleh tua-tua dari setiap generasi. Meskipun globalisasi tidak sampai ‘menghilangkan budaya lokal’ tetapi ia akan membawa perubahan kebudayaan-kebudayaan lokal. Perubahan ini terjadi juga karena dinamisme dan keterbukaan dari budaya itu sendiri. pada akhirnya kebudayaan-kebudayaan lokal termasuk kebudayaan suku Damu Dazar saat ini akan berbeda di masa-masa yang akan datang.
Namun kondisi adat suku Damu Dazar yang masih terawat baik saat ini tidak akan hilang karena telah ada buku Ga’en Wongko’ Damu Dazar. Buku ini adalah potret budaya suku Damu Dazar saat ini. Ia mengabadikan budaya suku Damu Dazar yang masih mempertahankan struktur pemerintahan adatnya dan seluruh tata laku masyarakat mulai dari ritual-ritual, nyanyian-nyanyian, tarian-tarian serta doa-doa yang selalu didaraskan setiap kali upacara adat dilakukan. Tidak hanya itu, buku ini juga mengabadikan tempat-tempat sakral, tempat dilangsungkannya ritual-ritual adat dan juga sarana-sarana penunjang upacara lainnya.
Daftar Pustaka
Florida, Nancy A & Tehang, J Kristina. 2023. Ga’en Wongko’ Damu Dazar.Yogyakarta.Penerbit Deepublish.
Hiebert, Paul G.1996. Siapa “yang lain”-Siapa “Kita” Dalam Kirchberger & Prior (ed.) Iman dan Transformasi Budaya. Ende: Penerbit Nusa Indah, hlm. 14-48.
Prior, John Mansford. 1996. Kebudayaan Iman dan Sekularisme. Dalam Kirchberger & Prior (ed.) Iman dan Transformasi Budaya. Ende: Penerbit Nusa Indah, hlm. 298-310.
Sunardi, St. 2013. Mencari Logika Budaya di Pinggir Kapitalisme Global. Dalam Mulyani Sri. (Penyunting). Sastra Paddhati: Merajut Ilmu Humaniora, Jogyakarta Penerbit Universitas Sanata Dharma, hlm. 225-255
Sutrisno, Mudji. 2010. Ranah-Ranah Kebudayaan. Dalam Retnowati, Endang (peninjau) Tinjauan Buku Ranah-Ranah Kebudayaan Di Era Kapitalisme Global. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, EDISI XXXVI / NO.1 /2010| 221-246
NAF FOUNDATION